Rabu, 23 Maret 2011

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)


Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Stres pasca traumatik (Post Traumatic Stress Disorder/ PTSD) adalah akibat respon terhadap suatu trauma yang ekstrem – sebuah kejadian yang mengerikan yang seseorang alami, saksikan, atau dipelajari, terutama yang mengancam hidup atau yang menyebabkan penderitaan fisik. Pengalaman tersebut menyebabkan seseorang merasakan takut yang sangat kuat, atau perasaan tidak berdaya.
sejenis gangguan kecemasan umum yang berkembang setelah mengalami kejadian yang menakutkan atau serangan fisik maupun perasaan terancam. Dimana, gejalanya dapat berupa pengalaman kembali kejadian traumatis, lebih sensitive, dan penumpulan emosi.

Gejala PTSD
Gejala-gejala Stres pasca trauma adalah sebagai berikut:
1.      Terdapat stressor yang berat dan jelas (kekerasan, perkosaan, bencana, perang,dll), yang akan menimbulkan gejala penderitaan yang berarti bagi hampir setiap orang.
2.      Penghayatan yang berulang dari trauma itu yang dibuktikan oleh terdapatnya paling sedikit satu dari hal berikut:
  • Ingatan berulang dan menonjol tentang peristiwa itu
  • Mimpi-mimpi yang berulang dari peristiwa itu
  • Timbulnya secara tiba-tiba perilaku atau perasaan, seolah-olah peristiwa traumatic itu sedang timbul kembali, karena berkaitan dengan suatu gagasan atau stimulus/rangsangan.
3.      Pengumpulan respon terhadap, atau berkurangnya hubungan dengan dunia luar, yang mulai beberapa waktu sesudah trauma, dan dinyatakan paling sedikit satu dari hal berikut:
  • Berkurangnya secara jelas minat terhadap satu atau lebih aktivitas yang cukup berarti
  • Persaan terlepas atau terasing dari orang lain
  • Afek  (alam persaan) yang menyempit atau afek depresif (murumg,sedih, putus asa)
4.      Paling sedikit ada dua dari gejala-gejala berikut ini yang tidak ada sebelum trauma terjadi, yaitu:
  • Kewaspadaan atau reaksi terkejut berlebihan
  • Gangguan tidur (disertai mimpi-mimpi yang mengelisahkan)
  • Persaan bersalah karena lolos dari bahaya maut, sedangkan orang laintidak, atau merasa bersalah tentang perbuatan yang dilakukannya agar tetap hidup
  • Kesukaran konsentrasi
  • Penghindaraan diri dari aktivitas yang membangkitkan ingatan tentang peristiwa traumatic itu.
Dampak
Manusia tersebut berada dalam ketakutan yang hebat dan dahsyat dan selalu di cemaskan atau ditakutkan atau lebih sering dikenal seseorang tersebut bisa trauma karna kejadian tersebut , ia juga mungkin bingung dan bisa-bisa terkena PTSD atau sering biasanya disebut dengan sindrom kecemasan, labilitas otonomik, ketidakrentanan emosional, dan kilas balik dari pengalaman yang amat pedih itu setelah stress fisik maupun emosi yang melampaui batas ketahanan orang biasa . Sementara trauma psikis dalam psikologi diartikan sebagai kecemasan hebat dan mendadak akibat peristiwa dilingkungan seseorang yang melampaui batas kemampuannya untuk bertahan, mengatasi atau menghindar .
Biasanya Pengobatan bisa termasuk psikoterapi (mendukung dan melakukan terapi) dan pemberian obat antidepresan. Pengobatan memerlukan psikoterapi (termasuk terapi kontak) dan terapi obat. Karena sering kegelisahan hebat yang dihubungkan dengan kenangan yang menggoncangkan jiwa, psikoterapi mendukung memainkan tugas yang teramat penting pada pengobatan. Ada dua macam terapi pengobatan yang dapat dilakukan penderita PTSD, yaitu dengan menggunakan farmakoterapi dan psikoterapi. Pengobatan farmakoterapi dapat berupa terapi obat hanya dalam hal kelanjutan pengobatan pasien yang sudah dikenal. Dalam cognitive therapy, terapis membantu untuk merubah kepercayaan yang tidak rasional yang mengganggu emosi dan mengganggu kegiatan -kegiatan kita.
PENGOBATAN

Pengobatan bisa termasuk psikoterapi (mendukung dan melakukan terapi) dan pemberian obat antidepresan. Pengobatan memerlukan psikoterapi (termasuk terapi kontak) dan terapi obat. Karena sering kegelisahan hebat yang dihubungkan dengan kenangan yang menggoncangkan jiwa, psikoterapi mendukung memainkan tugas yang teramat penting pada pengobatan. Ahli terapi secara terbuka berempati dan bersimpati dalam mengenal rasa sakit psikologis. Ahli terapi menenteramkan orang bahwa respon mereka nyata tetapi menganjurkan mereka menghadapi kenangan mereka (sebagai bentuk terapi kontak). Mereka juga diajar cara untuk kegelisahan kontrol, yang menolong memodulasi dan mengintegrasikan kenangan menyiksa ke dalam kepribadian mereka.
Psikoterapi insight-oriented bisa membantu orang yang merasa merasa bersalah memahami mengapa mereka menghukum diri mereka sendiri dan membantu menghilangkan perasaan bersalah.
 
Tsunami Di Jepang

Jepang tertimpa musibah , jepang menangis , namun jepang tetap memiliki ketangguhan dalam menghadapi dan mengatasi tekanan tiga bencana besar sekaligus gempa bumi, tsunami, dan radiasi nuklir. Setiap kejadian ini tidak pernah luput dari media televisi, media cetak, radio dan situs-situs berita onlinen diseluruh dunia hingga detik demi detik tiap moment dramatisir tersebut direkam televisi jepang.

Peristiwa ini mengakibatkan lebih dari 10000 orang tewas dan 10000 orang hilang keseluruh dunia. Meski sangat panik jepang cepat bangkit, meskipun sedang berduka warga jepang tetap tenang dalam menghadapi persoalan bencana. Rakyat jepang bersikap sabar karena telah kehilangan orang-orang yang terkasihi. Jepang negara sakura yang terkenal sebagai sebutan bunga matahari , jepang merupakan negara yang paling siap, kuat, tabah, hebat dan beretika didunia dalam menghadapi bencana.

Setiap bantuan datang silih berganti dari tiap-tiap negara , semua orang ingin membantu rakyat jepang , jepang sangat berterimaksih sekali atas bantuannya, namun pemerintahan jepang tidak ingin menerima sembarang bantuan dan tidak ingin terus-menerus menerima bantuan karena jepang yakin rakyat nya akan kuat dan bertahan karena rakyat jepang terdidik menjadi rakyat yang kuat.

Kebersamaan yang membuat rakyat jepang selalu kuat rasa kekeluargaan mereka yang sangat erat meskipun sedang tertimpa musibah diantara mereka.  Tidak ada satupun rakyat jepang yang ego hanya untuk memikirkan dirinya sendiri, Meraka saling membantu dan menolong sesama korban tsunami. Negara dengan sebutan bunga matahari ini yakin bahwa negara jepang bisa bangkit dan menata kembali negaranya setrelah terkena Tsunami ini.


DAFTAR PUSTAKA

Yurika Fauzia Wardhani & Weny Lestari, “Gangguan Stres Pasca Trauma pada Korban BENCANA ALAM DAN SEKITARNYA”.
W. Roan, “Melupakan Kenangan Menghapus Trauma” dalam Intisari, Desember 2003

Senin, 14 Maret 2011

Stress dan Penyesuaian Diri

Definisi Stres
Menurut Hobfoll (dalam Santrock, 2003 : 557) pada awalnya, stres diambil begitu saja dari ilmu fisika. Pada saat itu manusia diperkirakan kurang lebih serupa dalam satu dan lain hal dengan obyek fisika, misalnya logam, yang mampu menahan kekuatan dari luar namun pada satu titik akan kehilangan kekuatannya bila dihadapkan pada satu tekanan yang besar.
Stres (stress) adalah respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stres (stresor), yang mengancam dan mengganggu kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping). Sedangkan menurut Hans Selye (dalam Santrock, 2003 : 557) stres sebenarnya adalah kerusakan yang dialami tubuh akibat berbagai tuntutan yang ditempatkan padanya.
Respon Tubuh terhadap Stres
Sindrom Adaptasi Umum (General Adaption Syndromel /GAS) adalah konsep yang dikemukakan oleh Selye yang menggambarkan efek umum pada tubuh ketika ada tuntutan yang ditempatkan pada tubuh tersebut. GAS terdiri dari tiga tahap, yaitu (Selye dalam Santrock, 2003 : 560) :
1. Peningkatan alarm, individu memasuki kondisi shock yang bersifat sementara, suatu masa dimana pertahanan terhadap stres ada di bawah normal. Individu mengenali keberadaan stres dan mencoba menghilangkannya. Otot menjadi lemah, suhu tubuh menurun, dan tekanan darah juga turun. Kemudian terjadi yang disebut dengan countershock, dimana pertahanan terhadap stres mulai muncul ; korteks adrenal mulai membesar, dan pengeluaran hormon meningkat. Tahap alarm berlangsung singkat.
2. Perlawanan (resistance), dimana pertahanan terhadap stres menjadi semakin intensif, dan semua upaya dilakukan untuk melawan stres. Pada tahap pertahanan, tubuh individu dipenuhi oleh hormon stres ; tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, dan pernafasan semua meningkat. Bila semua upaya yang dilakukan untuk melawan stres ternyata gagal dan stres tetap ada, maka akan masuk ke tahap selanjutnya.
3. Kelelahan (exhausted), dimana kerusakan pada tubuh semakin meningkat, orang yang bersangkutan mungkin akan jatuh pingsan di tahap kelelahan ini, dan kerentanan terhadap penyakitpun meningkat.
Menurut Selye tidak semua stres itu buruk, yang kemudian dia sebut dengan Lustress yaitu konsep Selye yang menggambarkan sisi positif dari stres. Berkompetisi di suatu kejuaraan, menulis karangan, atau mengejar seseorang yang menarik membuat tubuh menghabiskan energi.
Salah satu kritik utama terhadap pandangan Selye adalah manusia tidak selalu bereaksi terhadap stres dengan cara yang sama seperti yang ia kemukakan. Masih banyak lagi yang harus dipahami mengenai stres pada manusia daripada sekedar mengetahui reaksi fisik manusia terhadap stres. Perlu juga mengetahui kepribadian mereka, susunan fisik, persepsi, dan konteks dimana stresor atau penyebab stres muncul (Hobfoll (1989) dalam Santrock, 2003 : 560)
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi/Menyebabkan Stres
1. Faktor-Faktor Lingkungan
a. Beban yang terlalu berat, konflik dan frustasi
Istilah yang sering digunakan untuk beban yang terlalu berat di masa kini adalah burnout, perasaan tidak berdaya, tidak memiliki harapan, yang disebabkan oleh stres akibat pekerjaan yang sangat berat. Burnout membuat penderitanya merasa sangat kelelahan secara fisik dan emosional (Pines & Aronson (1988) dalam Santrock, 2003 : 560)
Berbagai stimulus bukan hanya dapat menjadi beban yang terlalu berat, namun juga bisa menjadi sumber konflik. Konflik terjadi ketika seseorang harus mengambil keputusan dari dua atau lebih stimulus yang tidak cocok. Tiga tipe konflik utama adalah :
1) Mendekat/mendekat (approach/approach conflict), terjadi bila individu harus memilih antara dua stimulus atau keadaan yang sama menarik. Konflik mendekat / mendekat adalah konflik yang tingkat stresnya paling rendah dibandingkan dua tipe konflik lainnya karena dua pilihannya memberikan hasil yang positif.
2) Menghindar/menghindar (avoidance/avoidance conflict), terjadi ketika individu harus memilih antara dua stimulus yang sama-sama tidak menarik, yang sebenarnya ingin dihindari keduanya, namun mereka harus memilih salah satunya. Pada banyak kasus, individu memilih untuk menunda mengambil keputusan dalam konflik menghindar/menghindar samap saat-saat terakhir.
3) Mendekat/menghindar (approach/avoidance conflict), terjadi bila hanya ada satu stimulus atau keadaan namun memiliki karakteristik yang positif dan juga negatif. Bila dihadapkan dalam konflik seperti ini (timbul dilema), biasanya individu merasa bimbang sebelum mengambil keputusan. Ketika waktunya untuk mengambil keputusan semakin dekat, kecenderungan untuk menghindar biasanya semakin mendominasi (Miller (1959) dalam Santrock, 2003 : 561).
Frustasi adalah situasi apapun dimana individu tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Kegagalan dan kehilangan adalah dua hal yang terutama membuat frustasi.
b. Kejadian besar dalam hidup dan gangguan sehari-hari
2. Faktor-Faktor Kepribadian – Pola Tingkah Laku Tipe A (type A Behavior Pattern)
Adalah sekelompok karakteristik – rasa kompetitif yang berlebihan, kemauan keras, tidak sabar, mudah marah , dan sikap bermusuhan – yang dianggap berhubungan dengan masalah jantung. Penelitian mengenai pola tingkah laku tipe A pada anak-anak dan remaja menemukan bahwa anak-anak dan remaja dengan pola tingkah laku tipe A cenderung menderita lebih banyak penyakit, gejala gangguan jantung, ketegangan otot, dan gangguan tidur, dan bahwa anak-anak dan remaj dengan tipe A biasanya memiliki orang tua yang juga memiliki pola tingkah laku A (Santrock, 2003 : 570).
3. Faktor-Faktor Kognitif
Sesuatu yang menimbulkan stres tergantung pada bagaimana individu menilai dan menginterpretasikan suatu kejadian secara kognitif. Pandangan ini telah dikemukan oleh peneliti bernama Richard Lazarus (1966, 1990, 1993).
Penilaian kognitif (cognitive appraisal) adalah istilah yang digunakan Lazarus untuk menggambarkan interpretasi individu terhadap kejadian-kejadian dalam hidup mereka sebagai sesuatu yang berbahaya, mengancam, atau menantang dan keyakinan mereka apakah mereka memiliki kemampuan untuk menghadapi suatu kejadian dengan efektif (dalam Santrock, 2003 : 563).
Menurut pandangan Lazarus, berbagai kejadian dinilai dua langkah :
a. Penilaian primer (primary appraisal), mengartikan apakah suatu kejadian mengandung bahaya atau menyebabkan kehilangan, menimbulkan suatu ancaman akan bahaya di masa yang akan datang atau tantangan yang harus dihadapi.
1) Bahaya (harm), penilaian terhadap kerusakan yang sudah diakibatkan oleh suatu kejadian.
2) Ancaman (threat), penilaian terhadap kerusakan yang berpotensi terjadi di masa yang akan datang akibat suatu kejadian.
3) Tantangan (challenge), penilaian terhadap potensi untuk mengatasi situasi yang tidak menyenangkan akibat suatu kejadian dan mengambil keuntungan secara maksimal dari kejadian tersebut.
b. Penilaian sekunder (secondary appraisal), mengevaluasi potensi atau kemampuan dan menentukan seberapa efektif potensi atau kemampuan yang dapat digunakan untuk menghadapi suatu kejadian.
Lazarus percaya bahwa pengalaman stres adalah keseimbangan antara penilaian primer dan sekunder. Ketika bahaya dan ancaman tinggi, sementara tantangan dan sumber daya yang dimiliki rendah, stres cenderung akan menjadi berat; bila bahaya dan ancaman rendah, dan tantangan serta sumber daya yang dimiliki tinggi, maka stres akan cenderung menjadi ringan atau sedang (dalam Santrock, 2003 : 563).
4. Faktor-Faktor Sosial Budaya
a. Stres akulturatif
Akulturasi (acculturation) mengacu pada perubahan kebudayaan yang merupakan akibat dari kontak langsung yang sifatnya terus menerus antara dua kelompok kebudayaan yang berbeda. Sedangkan stres akulturatif (acculturative) adalah konsekuensi negatif dari akulturasi.
b. Status sosial ekonomi
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketahanan (resilience) terhadap Stres
Menurut Norman Garmezy (dalam Santrock, 2003 : 565) :
1. ketrampilan kognitif (perhatian, pemikiran reflektif) dan respon positif terhadap orang lain
2. keluarga, ditandai dengan adanya kehangatan, keterikatan satu sama lain, dan ada orang dewasa yang memperhatikan
3. ketersediaan sumber dukungan eksternal, seperti ketika kebutuhan yang kuat akan tokoh ibu dapat dipenuhi oleh tokoh guru, tetangga, orang tua teman, atau struktur institusional.

Cara Penanganan Stres
1. Menghilangkan stres mekanisme pertahanan, dan penanganan yang berfokus pada masalah. Menurut Lazarus (dalam Santrock, 2003 : 566) penanganan stres atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
a. Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
b. Coping yang berfokus pada emosi (problem-focused coping)adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif.
Strategi penanganan stres dengan mendekat dan menghindar (Santrock, 2003 : 567) :
a. Strategi mendekati (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres tersebut dengan cara menghadapi penyebab stres tersebut atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung
b. Strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha yang muncul dalam tingkah laku, untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stres
Menurut Ebata & Moos, 1994 (dalam Santrock, 2003 : 567) individu yang menggunakan strategi mendekat untuk menghadapi stres adalah remaja yang berusia lebih tua, lebih aktif, menilai stresor utama yang muncul sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan dan sebagai suatu tantangan, dan memiliki sumber daya sosial yang dapat digunakan. Sedangkan, individu yang menggunakan strategi menghindar mudah merasa tertekan dan mengalami stres, memiliki stresor yang lebih kronis, dan telah mengalami kejadian-kejadian yang lebih negatif dalam kehidupannya selama tahun sebelumnya.

Berpikir positif dan self-efficacy
Menurut Bandura (dalam Santrock, 2003 : 567) self-efficacy adalah sikap optimis yang memberikan perasaan dapat mengendalikan lingkungannya sendiri.
Menurut model realitas kenyataan dan khayalan diri yang dikemukan oleh Baumeister, individu dengan penyesuaian diri yang terbaik seringkali memiliki khayalan tentang diri mereka sendiri yang sedikit di atas rata-rata. Memiliki pendapat yang terlalu dibesar-besarkan mengenai diri sendiri atau berpikir terlalu negatif mengenai diri sendiri dapat mengakibatkan konsekuensi yang negatif. Bagi beberapa orang, melihat segala sesuatu dengan terlalu cermat dapat mengakibatkan merasa tertekan. Secara keseluruhan, dalam kebanyakan situasi, orientasi yang berdasar pada kenyataan atau khayalan yang sedikit di atas rata-rata dapat menjadi yang paling efektif (dalam Santrock, 2003 : 568).

Sistem dukungan
Menurut East, Gottlieb, O’Brien, Seiffge-Krenke, Youniss & Smollar (dalam Santrock, 2003 : 568), keterikatan yang dekat dan positif dengan orang lain – terutama dengan keluarga dan teman – secara konsisten ditemukan sebagai pertahanan yang baik terhadap stres.

Berbagai strategi penanganan stres
Dalam penanganan stres dapat menggunakan berbagai strategi coping, karena stres juga disebabkan tidak hanya oleh satu faktor, melainkan oleh berbagai faktor (Susman, 1991 dalam Santrock, 2003 : 569).






Penyesuain Diri
Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery)
Pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut.
Ada juga penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pemaknaan penyesuaian diri seperti ini pun terlalu banyak membawa akibat lain.
Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapattekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baiksecara moral, sosial, maupun emosional.
Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidakterjadi.

Pertumbuhan personal
Pengertian pertumbuhan personal :
Manusia merupakan makhluk individu. Manusia itu disebut individu apabila pola tingkah lakunya bersifat spesifik dirinya dan bukan lagi mengikuti pola tingkah laku umum. Ini berarti bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas didalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang.
Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor yang mempengaruhinya terutama lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat pun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.
Dengan adanya naluri yang dimiliki suatu individu, dimana ketika dapat melihat lingkungan di sekitarnya maka secara tidak langsung maka individu akan menilai hal-hal di sekitarnya apakah hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam masyarakat yang memiliki suatu norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang disiplin yang menerapkan aturan-aturan yang tegas maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang religius maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang religius.
Terjadinya perubahan pada seseorang secara tahap demi tahap karena pengaruh baik dari pengalamaan atau empire luar melalui panca indra yang menimbulkan pengalaman dalam mengenai keadaan batin sendiri yang menimblkan reflexions.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan individu, yaitu:
1. Faktor Biologis
Semua manusia normal dan sehat pasti memiliki anggota tubuh yang utuh seperti kepala, tangan , kaki dan lainya. Hal ini dapat menjelaskan bahwa beberapa persamaan dalam kepribadian dan perilaku. Namun ada warisan biologis yang bersifat khusus. Artinya, setiap individu tidak semua ada yang memiliki karakteristik fisik yang sama.
2. Faktor Geografis
Setiap lingkungan fisik yang baik akan membawa kebaikan pula pada penghuninya. Sehingga menyebabkan hubungan antar individu bisa berjalan dengan baik dan mencimbulkan kepribadian setiap individu yang baik juga. Namun jika lingkungan fisiknya kurang baik dan tidak adanya hubungan baik dengan individu yang lain, maka akan tercipta suatu keadaan yang tidak baik pula.
3. Faktor Kebudayaan Khusus
Perbedaan kebuadayaan dapat mempengaruhi kepribadian anggotanya. Namun, tidak berarti semua individu yang ada didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sama juga memiliki kepribadian yang sama juga.
Dari semua faktor-faktor di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dalam membentuk perilaku individu. Menurutnya, faktor-faktor personallah yang menentukan perilaku manusia.
Menurut Edward E. Sampson, terdapat perspektf yang berpusat pada persona dan perspektif yang berpusat pada situasi. Perspektif yang berpusat pada persona mempertanyakan faktor-faktor internal apakah, baik berupa instik, motif, kepribadian, sistem kognitif yang menjelaskan perilaku manusia. Secara garis besar terdapat dua faktor.

General Adaptation Syndrom (GAS)
a. Fase Alarm ( Waspada)
Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stressor. Reaksi psikologis “fight or flight” dan reaksi fisiologis. Tanda fisik : curah jantung meningkat, peredaran darah cepat, darah di perifer dan gastrointestinal mengalir ke kepala dan ekstremitas. Banyak organ tubuh terpengaruh, gejala stress memengaruhi denyut nadi, ketegangan otot dan daya tahan tubuh menurun.
Fase alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh seperti pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah dan akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepas untuk meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan norepineprin mengakibatkan denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran darah ke otot. Peningkatan ambilan O2 dan meningkatnya kewaspadaan mental.
Aktifitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan “ respons melawan atau menghindar “. Respon ini bisa berlangsung dari menit sampai jam. Bila stresor masih menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi.
b. Fase Resistance (Melawan)
Individu mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha menyeimbangkan kondisi fisiologis sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh mencoba mengatasi faktor-faktor penyebab stress. Bila teratasi gejala stress menurun àtau normal tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung, tekanan darah, cardiac out put. Individu tersebut berupaya beradaptasi terhadap stressor, jika ini berhasil tubuh akan memperbaiki sel – sel yang rusak. Bila gagal maka individu tersebut akan jatuh pada tahapa terakhir dari GAS yaitu : Fase kehabisan tenaga.
c. Fase Exhaustion (Kelelahan)
Merupakan fase perpanjangan stress yang belum dapat tertanggulangi pada fase sebelumnya. Energi penyesuaian terkuras. Timbul gejala penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, dll. Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan, maka kelelahan dapat mengakibatkan kematian.


Daftar Pustaka :

Santrock, John W. Adolescence : Perkembangan Remaja Ed. 6. Jakarta : Erlangga, 2003.
Kartono, K. (2000). Hygiene mental. Bandung: Mandar Maju.

Senin, 07 Maret 2011

Pengertian Kepribadian Menurut Allport, Maslow, Rogers

Kepribadian menurut Allport

Manusia memiliki kepribadian yang dapat terbentuk dari masa kanak-kanak hingga masa dewasa, yang membentuknya dengan kasih dan saying dan rasa aman dari orang tua mereka, karena kodrat manusia adalah positf, penuh harapan dan menyanjung-nyajung sehingga orang-orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tidak sadar, tidak dapt dilihat dan dipengaruhi.
Orang-orang yang sehat tidak di dorong oleh konflik-konflik tidak sadar dan tingkah laku mereka tidak di tentukan oleh setan-setan ada jauh dalam mereka. Individu yang sehat akan mempengaruhi pada tingkat rasional sadar dan dapat mengontrol kekuatan-kekuatan tersebut. Kepribadian yang sehat tidak dipengaruhi oleh trauma-trauma, konflik masa kanak-kanak.
Karena orang-orang yang sehat dibimbing dan diarahkan oleh masa sekarang dan intensitas kearah masa depan sehingga pandangan orang sehat hanya kedepan dan peristiwa yang akan datang. Kepribadian terdiri dari intensi-intensi yang sadar dan sengaja. Kodrat intensional kepribadian sehat yaitu melihat kearah masa depan sehingga mempersatukan seluruh kepribadian .manusia yang sehat memiliki kebutuhan yang terus menerus dan variasi akan sensasi dan tantangan baru dan kepribadian yang sehat tidak perlu menjadi kepribadian yang senang bahagia secara jasmani dan rohani.
Karena bagi Allport kepribadian sehat suram dan penuh rasa sakit dan sedih. kepribadian yang sehat merupakn 2 hal yang terpisah, kepribadian sehat dapat mencintai dan memperluas dirinya kedalam hubungan dengan penuh perhatian dengan orang lain.


Daftar Pustaka

Allprt, G Becoming: Basic Considerations for a Psychologi of Personality. New Haven: Yale University Press, 1995
Personality and Social Encounter. Boston: Beacon Press, 1960
Pattern and Growth in Personality. New York: Holt, Rinehart & Winston 1961
The Person in Psychologi. Boston: Beacon Press, 1968
Madd, S.R. and Costa, P.T. Humanism in Personology: Allport, Maslow and Murray. Chicago: Aldine-atherton, 1972.


Kepribadian Menurut Maslow

Anggapan-anggapan Dasar tentang Manusia
Setiap orang, termasuk teoris kepribadian, memiliki anggapan-anggapan dasar (basic assumtions) tertentu tentang manusia yang oleh George Boeree disebut asumsi-asumsi filosofis (Boeree, 2005 : 23). Anggapan-anggapan dasar yang diperoleh melalui hubungan pribadi atau pengalaman-pengalaman sosial ini secara nyata akan mempengaruhi persepsi dan tindakan manusia terhadap sesamanya.
Dalam konteks para teoris kepribadian, anggapan-anggapan dasar ini mempengaruhi konstruksi dan isi teori kepribadian yang disusunnya. Anggapan-anggapan dasar tentang manusia yang mempengaruhi atau mewarnai teori-teori kepribadian adalah sebagai berikut.

1. Kebebasan – ketidak bebebasan
Ada anggapan bahwa manusia merupakan makhluk yang bebas berkehendak, mengambil sikap, dan menentukan arah kehidupannya. Sebaliknya ada anggapan yang berlawanan dengan itu, bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak bebas. Salah seorang teoris kepribadian, yaitu Abraham Maslow menganggap bahwa manusia merupakan makhluk yang bebas, sementara itu teoris kepribadiannya lainnya diantaranya Freud dan Skinner, menyatakan bahwa pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang perilakunya tidak bebas karena ditentukan oleh sejumlah determinan.

2. Rasionalitas – irasionalitas
Maslow dan para teoris kepribaian humanistik lainnya beranggapan bahwa manusia merupakan makhluk yang perilakunya digerakkan oleh faktor-faktor yang rasional. Sedangkan Freud menganggap bahwa manusia merupakan makhluk yang cenderung irasional. Sementara itu Skinner dan para behavioris lainnya tidak begitu terikat pada anggapan dasar rasional-irasional.

3. Holisme – elementalisme
Menurut Freud dan Maslow manusia hanya dapat dimengerti bila dilihat dan dipelajari sebagai totalitas. Sedangkan Skinner cenderung memenadang menausia secara elemtalisme, bahwa perilaku manusia dapat dipelajari sebagian-sebagian. Hal demikian juga diperkuat dengan pendapatnya bahwa kepribadian adalah sekumpulan tingkah laku yang dipelajari.
4. Konstitusionalisme – environmentalisme
Konstitusionalisme merupakan pandangan yang menyatakan bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh faktor-faktor yang sudah dimiliki sejak lahir atau faktor bawaan. Sedangkan environmentalisme menganggap bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh faktor-faktor yang berasal dari lingkungannya.
Freud dengan teori mengenai naluri yang bersifat bawaan, termasuk teoris kepribadian konstitusionalis, demikian halnya Maslow dengan teori kebutuhan bertingkatnya. Namun komitmen Maslow pada konstitusi-onalisme ini tidak sekuat Freud. Sedangkan Skinner dan para behavioris lainnya beranggapan bahwa perilaku manusia merupakan hasil belajar dari lingkungannya.

5. Berubah – tidak berubah
Anggapan dasar berubah – tak berubah mempersoalkan berubah tidaknya kepribadian individu sepanjang hidupnya. Freud sebagai penganut determinisme, beranggapan bahwa kepribadian individu ditentukan oleh pengalaman masa kanak-kanak awal dan tidak akan berubah sepanjang hidup individu. Sedangkan Maslow dan Skinner beranggapan bahwa kepribadian individu mengalami perubahan sepanjang hidupnya.

6. Subjektivitas – objektivitas
Anggapan dasar tentang subjektivitas dan objektivitas manusia berkenaan dengan persoalan apakah perilaku manusia ditentukan oleh pengalaman personalnya yang subjektif atau faktor-faktor eksternal yang objektif. Rogers, tokoh psikologi fenomenologi dan salah satu tokoh psikologi humanistik, menyatakan bahwa dunia batin atau dunia subjektif individu merupakan penyebab terbesar bagi terjadinya perilaku individu.
Freud dan Maslow berpegang pada anggapan dasar yang sama dengan Rogers bahwa perilaku manusia bersifat subjektif. Sedangkan Skinner menolak pandangan tentang pengalaman subjektif manusia. Dia lebih menitik beratkan pada tingkah laku yang dapat diamati dan diukur secara objektif.


7. Proaktif – reaktif
Pandangan proaktif-reaktif menjelaskan sumber penyebab perilaku manusia. Apakah perilaku manusia didorong oleh faktor-faktor internal atau faktor-faktor eksternal?
Freud dan Maslow merupakah teoris kepribadian yang menganggap bahwa perilaku manusia bersifat proaktif, yaitu lebih banyak digerakkan oleh faktor-faktor internalnya.
Menurut Freud, perilaku manusia didorong oleh faktor internal yang sebagian besar berasal dari alam yang tidak disadari. Sedangkan menurut Maslow, perilaku manusia didorong oleh faktor-faktor internal yang disadari.
Skinner dan para behavioris memandang bahwa perilaku manusia bersifat reaktif. Menurut mereka perilaku manusia merupakan respon terhadap stimulus-stimulus yang datang dari lingkungan.

8. Homeostatis – heterostatis
Konsep homeostatis menjelaskan bahwa perilaku manusia terutama dimotivasi oleh upaya mengurangi atau menghilangkan ketegangan yang terjadi akibat ketidak seimbangan, misalnya lelah, lapar, ingin tahu, dst. Sedangkan konsep heterostatis menjelaskan bahwa perilaku manusia terutama dimotivasi oleh upaya menuju perkembangan dan aktualisasi diri.
Freud merupakan salah satu teoris kepribadian yang berpegang pada konsep homeostatis.
Sedangkan Maslow berpegang pada konsep heterostatis. Sementara Skinner menolak kedua konsep motivasi tersebut. Bagi Skinner, perilaku manusia disebabkan oleh stimulus-stimulus yang datang dari luar dirinya dan bukan kerena motivasi.

9. Dapat diketahui – tidak dapat diketahui
Freud berpandangan bahwa manusia dapat diketahui sepenuhnya melalui metode ilmiah karena perilaku manusia berlangsung berdasarkan hukum-hukum alam. Sejalan dengan pandangan Freud, Skinner menyatakan bahwa melalui observasi-observasi yang sistematis dapat diperoleh pengetahuan yang memadai tentang manusia.
Maslow berpandangan lain dengan Freud dan Skinner. Menurut Maslow manusia tidak bisa diketahui sepenuhnya meskipun dengan uapaya-upaya ilmiah
Semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang di bawa sejak lahir. Untuk mengaktualisasikan diri, karena didorong oleh kebutuhan universal dan jiwa yang dibawa sejak lahir. Persyaratan untuk mencapai aktualisasi diri adalah 4 kebutuhan yang berada dalm tingkat rendah yaitu : kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan memilki cinta , kebutuhan akan penghargaan.
Kebutuhan Fisiologis yaitu : Kebutuhan yang jelas terhadap makan, air, udara, tidur dan akan seks dan pemuasan terhadap kebutuhan itu sangat penting untuk kelangsungan hidup.
Kebutuhan akan rasa aman yaitu : meliputi kebutuhan akan jasmani, stabilitas, perlindungan, ketertiban, bebas dari ketakutan dan kecemasan.
Kebutuhan akan memiliki dan cinta yaitu : menerima nilai-nilai dan sifat-sifat dari orang lain dengan maksut supaya mrasakan perasaan memilik agar memuaskan kebutuhan kita akan cinta dalam membangun suatu hubungan yang akrab, agar dalam hubungan ini kita dapat memberi dan menerima cinta, karena cinta adalah sama penting nya. Maslow percaya makin lama makin sulit memuaskan kebutuhan akan memiliki dan cinta karena mobilitas
Kebutuhan akan penghargaan yaitu : penghargaan dari orang lain dan penghargaan terhadap diri sendiri yang berasal dari orang lainadalah yang paling utama yang berasal dari luar seperti : reputasi , kekaguman, status, popularitas, pretise dll.
Karena bagi Maslow apabila kita telah memuaskan semua kebuthan tersebut maka kita akan didorong oleh kebutuhan yang paling tinggi, kebutuhan akan aktualisasi diri, yang dapat didefenisikan sebagai perkembangan yang paling tinggi dalam semua penggunan bakat kita. Untuk mencapai jaminan, cinta, penghargaan dan pemenuhan tidak akan terjadi apabila kita tidak mengetahui dan lambat sehingga tidak mungkin menjadikan kita orang yang bisa mengaktualisasikan diri sendiri.


Daftar Pustaka

Maslow, A.H. Self-Actualization and Beyond. In J.F.T. Bugental, ed., Challenges of Humanistik Psychology. New York: Mc. Graw-Hill, 1967, hlm. 279-286
Toward a Psychologi of Being, 2nd de. New York: D. Van Nostrand, 1968
Motivation and Personality, 2nd ed. New York: Harper & Row, 1970
The Farher Reaches of Human Nature. New York: Viking, 1971
Hall, M.H. A Conversation with Abraham H. Malsow. Psychology Today, 1968, 2, 34-37, 54-57
Maddi, S.R and Costa, P.T. Humanism in Peronology : Allport, Maslow and Murray. Chicago: Adline-Atherton 1972



Kepribadian Menurut Rogers

Rogers menempatkan suatu dorongan fundamental dalam sistemnya tentang kepribadian yaitu memelihara, mengaktulisasikan dan meningkatkan semua segi individu yang dibawa sejak lahir melalui komponen-komponen pertumbuhan fisiologis dan psikologis.Kecendrungan aktualisasi pada tingkat fisiologis benar-benar tidak dapat di kekang, kecendrungan ini mendorong individu ke depan dari arah salah satu tingkat pematangan ketinggkat pematangan berikutnya. Karena pada tingkat biologis Rogers tidak membedakan antara manusia yang sehat dan manusia yang tidak sehat. Tetapi apabila dihubungkan denga aktualisasi maka jelas berbeda.Rogers percaya bahwa manusia memiliki dorongan sejak lahiruntuk menciptakan dan hasil ciptaan tersebut yang penting diri sendiri.karena orang orang sehat lebih banyak mempunyai tujuan di bandingkan orang-orang yang tidak sehat.

a. Perkembangan Kepribadian ‘Self’
Apabila orang-orang bertanggung jawab terhadap kepribadian mereka sendiri dan mampu memperbaikinya, maka mereka harus menjadi makhluk yang sadar dan rasional.
b. Peranan Positif Regard
Positive regard adalah suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes, dimiliki oleh semua manusia, setiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak semua anak menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini.
c. Ciri Orang Yang Berfungsi
Manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan (toilet training), penyapihan yang lebih cepat atau pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya

Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa
3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

Daftar Pustaka

Rogers, C.R. Client-Centered Therapy: Its Current Pratice, Implicatins, and Theory. Boston: Houghton Mifflin, 1951
On Becoming a Person: A Therapist’s View of Psychotherapy. Boston: Houghton Miffin, 1961
Toward a Scince of the Person. Joutnal of Humanistic Psychology, 1963, 3. 72-97
Hall, M.H. A conversation with Carl Rogers. Psychology Today, 1967,1,18-21,62-66

Kepribadian sehat menurut Psikoanilsa , Humanistik , Behaviorisme

Kepribadian Sehat Menurut Psikoanalisa
Dalam psikologi dikenal berbagai macam mazhab dengan teorinya yang berbeda-beda, begitu juga dengan pengertian kepribadian yang normal berbeda-beda pada tiap mazhab.

Menurut Psikoanalisa:
Kepribadian yang normal (sehat) adalah :

1) Kepribadian yang sehat menurut Freud adalah jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah

2) Hasil dari belajar dalam mengatasi tekanan dan kecemasan

3) Terdiri dari Id , Ego , Super ego
- Id mempresentasikan dunia batin pengalaman subjektif dan tidak mengenal kenyataan objektif. Id terdiri dari dorongan-dorongan biologis dasar seperti kebutuhan makan, minum, seks, dan agresifitas.
Dalam Id terdapat dua jenis energi yang saling bertentangan dan sangat mempengaruhi kehidupan individu, yaitu insting kehidupan dan insting mati. Dorongan-dorongan dalam Id selalu ingin dipuaskan, dan dalam pemuasannya Id selalu berupaya menghindari pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan (prinsip kesenangan atau Pleasure Principle).

- Ego merupakan energi yang mendorong untuk mengikuti prinsip kenyataan. Ego menjalankan fungsi pengendalian agar upaya pemuasan dorongan Id itu realistis atau sesuai dengan kenyataan


- Super Ego adalah hati nurani seseorang yang menilai benar atau salahnya tindakan seseorang. Itu berarti superego mewakili nilai-nilai ideal dan selalu berorientasi pada kesempurnaan.

individu akan menyadari gejala-gejala psikis yang timbul, yaitu :
1). Tingkat sadar atau kesadaran (conscious level)Pada tingkat ini aktivitas mental dapat disadari setiap saat seperti berpikir, persepsi, dan lain-lain.

2). Tingkat prasadar (preconscious level)Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis yang timbul bias disadari hanya apabila individu memperhatikannya, misalnya memori, pengetahuan-pengetahuan yang telah dipelajari, dan lain-lain.

3). Tingkat tidak disadari (unconscious level)Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis tidak disadari oleh individu. Gejala-gejala ini muncul misalnya dalam dorongan-dorongan immoral, pengalaman-pengalaman yang memalukan, harapan-harapan yang irasional, dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dan lain-lain. Tingkat tidak disadari inilah yang merupakan objek studi psikoanalisa


Kepribadian Sehat Menurut Behaviorisme
Behavioristik pada dasarnya berpegang pada keyakinan bahwa banyak perilaku manusia merupakan hasil suatu proses belajar dan karena itu, dapat diubah dengan belajar baru. Behavioristik berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian lagi bercorak psikologis, yaitu :
1. Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk, tepat atau salah. Berdasarkan bekal keturunan atau pembawaan dan berkat interaksi antara bekal keturunan dan lingkungan, terbentuk pola-pola bertingkah laku yang menjadi ciri-ciri khas dari kepribadiannya.
2. Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkah lakunya sendiri,menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri.
3. Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri pola-pola tingkah laku yang baru melalui suatu proses belajar.
4. Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain.
Prinsip dasar behaviorisme:

1) Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak

2) Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.

3) Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.

4) Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.

Behavioristik di pengaruhi oleh stimulus-respon. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Penguatan tersebut terbagi atas penguatan positif dan penguatan negatif.
Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang.


Kepribadian Sehat Menurut Humanistik
Humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap individu dipengaruhi dan dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri.

Prinsip- prinsip belajar humanistik:

1. Manusia mempunyai belajar alami
2. Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu
3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya
4. Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman itu kecil
5. Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman siswa dalam memperoleh caar
6. Belajar yang bermakna diperolaeh jika siswa melakukannya
7. Belajar lancer jika siswa dilibatkan dalam proses belajar
8. Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam
9. Kepercayaan pada diri pada siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri
10. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar







Daftar Pustaka
Alwilsol (2004), Psikologi Kepribadian, UMM Press
Freist, J & Freist, Gregory (1998), Theories of Personality, Amerika : Mc Graw Hill.
Hall, Calvin S., & Lindzey, Gardner (2000), Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis), Dr. A. Supratiknya (ed.), Jogjakarta :Kanisius .
Robert, Thomas B., Four Psychologies Applied to Education, 1975, New York, Hals Ted Press Dvision
Smith, Mark K. (1997), Carl Rogers, Core Conditions and Education,
www. Infred.org/thinkers/et-rogers.htm#intro.

Alwisol. (2005) Psikologi Kepribadian. Malang : Penerbit Universitas Muhammadyah Malang.
Boeree, CG. (1997) .Personality Theories :Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. (Alih bahasa : Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta
Primasophie.Farozin, H. M. Dan Fathiyah, Kartika Nur. (2004) Pemahaman Tingkah Laku. Jakarta Rineka Cipta.Koeswara, E. (1991) Teori-teori Kepribadian. Bandung
Eresco.Sumadi Suryabrata. (2005) Psikologi Kepribadian. Jakarta : CV Rajawali.Supratiknya, A. (editor) (1993) Teori-teori Holistik : Organismik – Fenomenologis. Yogyakarta : Kanisius.

Sabtu, 05 Maret 2011

Indigo Challenge

Pendahuluan

Kesehatan Mental adalah kemampuan seseorang menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan perkembangan sesuai kemampuannya, baik tuntutan diri sendiri maupun dari luar dirinya sendiri. Seperti menyesuaikan diri dengan lingkungan, rumah, sekolah, lingkungan kerja dan masyarakat serta teman sebaya. Seseorang dapat melakukan sesuatu aktivitas dengan baik bila dia sehat secara mental.

Yang dimaksud sehat secara mental adalah adanya rasa aman, kasih sayang, kebahagiaan, dan rasa diterima oleh orang lain. Sebaliknya seseorang akan mengalami hambatan mengikuti atau melakukan suatu aktivitas bila kesehatan mentalnya terganggu, seperti adanya rasa cemas, sedih, marah, kesal, khawatir, rendah diri, kurang percaya diri dll.

Adapun faktor yang mempengaruhi kesehatan mental pada manusia yang di pengaruhi oleh factor inter dan eksternal, yang keduanya saling mempengaruhi sehingga dapat menyebabkan gangguan mental yang berpengaruh terhadap gangguan jiwa dan penyakit jiwa lainnya. Contoh penyakit kesehatan mental seperti stress, retardasi, conduct disorder, sexsual disorder, schizophrenia.

Kata Pengantar

Anak Indigo adalah seseorang yang menunjukkan serangkain gejala psikologis yang baru yang tidak biasa, serta menunjukkan suatu pola penilaian yang tidak pernah terdokumentasikan sebelumnya. Saat ini label ADD dan ADHD kerap digunakan dalam bahasa sehari-hari, karena hal ini terungkap melalui fakta bahwa cara konvesional untuk menjadi orangtua dan mengajar telah ketinggalan zaman dan kuno bahkan primitf.

Orangtua atau siapapun yang berinteraksi dengan meraka agar dapat mengubah perlakuan dan pola asuh mereka untuk mencapai keseimbangan. Karena apabila kita mengabaikan pola ini akan menciptakan ketidak seimbangan dan frustasi dalam benak mereka. Berdasarkan penelitian pengelompokan perilaku manusia dapat menggunakan metode warna aura yang baru, yang berhasil menciptakan sistem profiling psikologis akurat dan mengejutkan, salah satu klasifikasi baru yang muncul adalah warna biru gelap yang lahir setelah tahun 1980,
dan menyebut warna biru ini “Indigo”.


Indigo Challlenge

Anak Indigo adalah seseorang yang menunujukkan serangkaian gelaja psikologis yang baru dan tidak biasa, serta menunjukkan suatu pola perilaku yang tidak pernah terdokumentasikan sebelumnya. Anak Indigo mewakili suatu keturunan individu
khusus yang datang ke bumi untuk melimpahkan anugerah yang mereka miliki.
Pekerjaan yang meraka lakukan tidak akan dapat membiarkan orang lain menghalanginya.

Orang Indigo tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi kecuali jika kita memberi obat kepada mereka agar tunduk. Tidak ada satupun orang yang dapat memaksakan anak Indigo untuk melakukan suatu hal, karena bagi mereka paksaan merupakan bentuk manipulasi yang tidak jujur dan memberi obat merupakan metode baru yang hanya semata-mata bertujuan agar anak Indigo bisa diterima secara sosial.
Anak Indigo sering diberi label ADD atua ADHD meskipun sebenarnya mereka tidak memiliki kelainan apapun.

Kekurangan perhatian dari orangtua bisa menjadi penyebab kelainan defisit terhadap anak Indigo, karena dia membutuhkan orangtua untuk menolong dan memandu mereka. Anak Indigo tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk memisahkan diri dan berbohong kepada diri sendiri karena mereka sangat tergantung pada telepati dan memiliki intergritas yang sangat besar untuk mengkhianati diri sendiri, karena itu anak Indigo menjadi panutan bagi kita semua . ADHD lebih mengarah pada perhatian yang diarahkan kepada dimensi yang lebih tinggi, karena faktanya anak Indigo memiliki banyak karateristik yang positif.

Anak Indigo merasa tua ketika lahir, karena dalam beberapa cara mereka lebih tahu banyak ketimbang orang dewasa, tetapi meraka memilki keterbatasan dalam
mengekspreikan karunia yang dimilikinya. Kelebihan anak Indigo adalah sangat kreatif dan mereka berpikir diluar batas sehingga gaya berpikir mereka menciptakan banyak terobosan di dunia, jika tidak di pahami dan disalurkan secara benar akan berakibat Indigo berakhir dengan diagnosis ADD atau ADHD.

Anak Indigo memerlukan dorongan dan kehebohan tingkat tinggi dalam hidupnya, yang seolah-olah otak mereka dirancang agar mampu menahan sejumlah besar stress dan apabila tidak anak Indigo mencari atau menciptakannya sendiri.

Anak Indigo adalah orang orang muda eksentrik karena mereka membuat peraturan sendiri dan hidup berdasarkan hati dan akal mereka. Adapun karateristik tersebut yaitu : kemauan yang kuat, selera humor yang bagus, imajinasi yang kreatif.

Oleh sebab itu mereka lebih sedikit memiliki masalah hidup ketimbang orang lain pada umumnya. Kebanyakan anak Indigo tahu bahwa mereka berbeda, rasa sakit karena diejek atau ditegur karena berbeda sering mereka alami, oleh karena itu mereka memerlukan dukungan dari teman dan keluarga agar mereka tidak merasa ada yang salah pada diri mereka, yang dapat memacu merka menjadi ntrovert.

ADD tidak menghasilkan kejahat yang mempermalukan merekalah yang memicu mereka untuk melakukan kejahatan, walaupun mereka berbeda sejatinya mereka bisa menjalankan hidup dengan bahagia dan produktif.

IQ anak Indigo saat ini lebih tinggi ketimbang sebelumnya, jelaslah tidak bodoh. Hanya saja ada pergeseran pada rata-rata IQ mereka yang di pengaruhi oleh ketrampilan verbal dan non-verbal. Kecerdasaan anak Indigo tidak dapat dilihat melalui rapor,
kecerdasan anak Indigo dapat dilihat melalui video game atau menghafal setiap kata-kata dalam lagu.

Istilah anak Indigo mengacu pada warna “biru Indigo” yang merupakan warna biru gelap mirip dengan batu lapis lazuli atau kain jins denim. Anak Indigo sensitive dalam banyak hal sehingga menjadi sumber ejekan karena terlalu sensitive, tetapi kepekaan mereka merupakan karunia spiritual. Meraka pun sama seperti manusia biasa yang sadar akan perasaan oranglain, dan kepekaan mereka terasah dalam dua bidang.
Dua bidang tersebut seperti :
1. Kebenaran dan Integritas
Anak Indigo sensitive terhada segala jenis kebohongan dan itegritas dalam diri orang lain, hal ini terjadi karena mereka memiliki Sam Keen-yang notabene nya penulis dan filsuf(Spiritual Bull Shit Detector sejenis detektor kebohongan) maka dari itu tidak ada yang data berbohong kepada anak Indigo tanpa konsekuensi.

2. Toksin Lingkungan
Anak-anak Indigo adalah anak-anak alami dalam dunia yang tidak alami, banyak dari mereka merasa bahwa pengalaman hidup pertama di Bumi
tidaklah menyenangkan yang berdampak pada sistem kekebalan tubuh mereka, secara fisik dan emosi sehingga tidak mampu menyerap toksin-
toksin Bumi, seperti : makan, minum, udara dana perlengkapan mandi dll. Dengan demikian ada kaitan antara ADHD dan toksin-toksin lingkungan.

Meskipun orangtua tahu bahwa pola makan mempengaruhi sifat hiperaktif
anak Indigonya, de facto juga mnegetahui bahwa mengubah pola diet bagi anak Indigo mereka adalah hal yang mustahil. Meskipun anak-anak mereka sering digoda dengan makanan cepat saji dari TV dan sudut jalanan.
Selain itu ada beberapa pola perilaku yang umum pada Indigo yaitu :
1. Mereka dating kedunia denagn perasaan ningrat.
2. Mereka memiliki perasaan pantas berada disini.
3. Mereka tidak mau melakukan hal-hal tertentu.
4. Mereka tidak malu untuk menunjukkan apa yang mereka butuhkan.
5. Mereka sering mencari cara untuk lebih baik melakukan berbagai hal.

Pola ini memilki faktor yang sama dan unik, yang siapapun berinteraksi dengan mereka (khususnya orang tua) mengubah perilaku dan pola asuh mereka untuk mencapai keseimbangan, karena apabila orang tua mengabaikan sama artinya dengan secara potensial menciptakan ketidak seimbangan dan frustasi dalam benak hidup mereka yang sangat berharga.

Anak-anak adalah masa depan kita. Karena itu mari kita membingkai ulang
realitas saat ini dari ruang hati kita, menjadikan masa depan yang potensial, dan membiarkan hidup dalam keberadaan yang lebih seimbang. Ayo, kita jadi Jembatan
Pelangi, mengubah cara yang lama menjadi cara yang baru buat dan demi anak-anak kita, diri kita sendiri, dan Bumi kelak.

Penutup

Demikianlah makalah yang saya buat melalui buku yang berjudul Indigo Challenge, tugas ini dibuat untuk memenuhi nilai kesehatan mental, mohon maff apabila terdapat kesalah dalam penulisan maupun penggunaan dalam kata kata. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan tentang anak Indigo. Saya ucapkan terimakasi.


Kesimpulan

Anak Indigo bukan termaksut dalam anak yang berkelainan , mereka hanya hiperaktif karena IQ mereka yang tinggi tidak seperti manusia yang biasanya, dan mereka lebih sensitif karena mereka memiliki kepekan yanga sangat tinggi selain itu mereka juga sering diejek karena ke sensitifannya,
pada intinya anak Indigo sama dengan manusia lainnya yang memerlukan kasih sayang, perhatian, dorongan, dan support baik dari teman maupun orang tua sekalipun, karena peran orang tua amatlah oenting demi pertumbuhan anaknya, tidak ada yang lebih mulia selain menyayangi anak sendiri tanpa melihat atau mengurangi rasa kasih dan sayangnya hanya karena anak kita mengalami kelainan dari anak biasanya.

Karena anak merupakn titip Tuhan yang harus kita jaga dan bimbing ke jalan yang benar, tidak ada hal yang paling membahagiakan melainkan melihat anak kita tumbuh dana dibesar dari kasih sayang orang tua yang tulus sepanjang hayat hidupnya.